Para petani di pegunungan Nepal kini sudah mulai beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.
[Pokhara, Nepali Times=Benjamin Zimmerman]
Para petani Himalaya berada di garis depan krisis iklim. Mereka harus menghadapi panas atau dingin yang ekstrem, kekeringan berkepanjangan atau curah hujan yang tinggi, tanah longsor dan banjir.
Akan tetapi, mereka juga merupakan petani paling tangguh, yang telah berjuang sendiri selama beberapa generasi untuk menanam cukup makanan pada petak yang diukir dengan cermat di tanah bagian atas yang rapuh di lereng.
“Pemerintah tidak tahu atau peduli dengan kami, para petani di sini,” tutur Surya Adhikari, 70 tahun. “Kami harus beradaptasi dengan perubahan iklim sendiri, sama seperti berbagai masalah lainnya yang telah kami hadapi di masa lalu.”
Sebetulnya, masalah pertanian di pegunungan Himalaya sudah ada dari sebelum terjadinya perubahan iklim, dan bagi petani seperti Adhikari, ini hanyalah krisis terbaru yang harus mereka hadapi.
Dalam hidupnya, Adhikari telah melihat garis salju surut di pegunungan Annapurna yang menjulang di atas desanya, Sundari Danda, dekat Pokhara, dan pola cuaca yang dulunya dapat diprediksi kini menjadi tidak menentu. Adhikari telah menanggapinya dengan melakukan diversifikasi tanaman, membangun irigasi, dan melindungi benih asli.
Para ilmuwan iklim mengatakan pegunungan Himalaya memanas hingga 0,7°C lebih tinggi dari rata-rata global karena fenomena yang disebut ‘efek ketinggian’. Pada tahun 2023, suhu rata-rata global naik sebesar 1,5°C di atas tingkat pra-industri. Artinya, peningkatan di pegunungan ini adalah sebesar 2,2°C.
Sebagian dampaknya adalah rekor panas bahkan pada ketinggian 1.500 meter di desa-desa dekat Pokhara ini, dan telah terjadi musim dingin yang kering selama beberapa tahun berturut-turut. Musim semi ini menjadi saksi kebakaran hutan yang memecahkan rekor. Api berkobar selama berbulan-bulan di seluruh negeri, dan banyak lereng di sekitar danau Begnas dan Rupa masih memperlihatkan bekas kebakaran.
Perubahan-perubahan ini, dikombinasikan dengan faktor-faktor ekonomi, telah meningkatkan migrasi keluar, dengan beberapa distrik seperti Kaski yang mengalami penurunan populasi sebesar 17% sejak tahun 2011.
Meskipun banyak pemuda desa yang bermigrasi keluar, Nepal tetap menjadi negara agraris dengan dua pertiga penduduknya bergantung pada pertanian, dan 33% PDB berasal dari sektor pertanian.
Oleh karena itu, saat monsun terakhir menunda penanaman padi atau saat kekeringan menghancurkan tanaman, yang menderita bukan hanya sektor pertanian, tetapi juga perekonomian negara secara keseluruhan. Nepal sudah menjadi importir bersih produk pangan, dan pertumbuhan impornya sangat terasa dalam 10 tahun terakhir.
Sejauh ini, monsun tahun ini lebih tinggi dari biasanya, dan penanaman padi diperkirakan hampir mencapai 100% di seluruh negeri. Namun, hujan deras juga dapat menyebabkan tanah longsor dan banjir bandang. Minggu ini, 12 orang tewas akibat tanah longsor di Gulmi dan Baglung, sehingga jumlah total korban tewas sejak Juni mencapai sekitar 175 jiwa.
Kecenderungan selama 10 tahun terakhir adalah bahwa hujan monsun dimulai lebih lambat dari biasanya. Terjadi musim kemarau panjang yang diikuti oleh hujan lebat lokal yang merusak. Kadar air tanah mengalami penurunan akibat pengisian ulang yang tidak memadai dan ekstraksi yang berlebihan, yang menyebabkan mata air menjadi kering.
Tanpa investasi pemerintah yang memadai dalam membangun dan memelihara sistem irigasi, petani di berbagai daerah pedesaan sepenuhnya bergantung pada hujan.
Penundaan penanaman membuat ladang menjadi tandus dan rentan terhadap erosi lapisan tanah atas yang bernutrisi, sekaligus juga menghambat siklus panen. Saat hujan tiba, badai dahsyat merusak atau menghancurkan tanaman.
Demikian pula, hama yang sebelumnya hanya ditemukan di Tarai atau hama yang sangat jarang ditemukan di Nepal seperti ulat tentara Amerika, yang menyerang jagung, kini berpindah ke pegunungan. Pertanian di Nepal pada dasarnya bersifat subsisten, tetapi krisis iklim telah mendorong mereka ke tepi jurang, sehingga banyak di antara mereka yang meninggalkan ladang dan bermigrasi ke kota atau ke luar negeri.
LI-BIRD (Inisiatif Lokal untuk Keanekaragaman Hayati, Riset, dan Pengembangan) yang berbasis di Pokhara, bekerja di 23 distrik untuk meningkatkan penghidupan petani kecil sambil melestarikan keanekaragaman hayati. Ini telah membuktikan jawabannya untuk membantu para petani beradaptasi dengan dampak krisis iklim, dan hanya perlu pemerintah untuk meningkatkan tindakan tersebut di seluruh negeri.
Fokus pada pertanian
Benih padi, gandum, millet, dan buckwheat lokal lebih kuat dibandingkan benih hibrida impor, dan lebih mampu beradaptasi dengan iklim yang lebih panas. Mereka telah berevolusi ke tanah setempat dan iklim mikro, dan secara genetik lebih cocok untuk menghadapi perubahan.
Inilah yang coba dilakukan oleh organisasi riset aksi yang berbasis di Pokhara, LI-BIRD: melestarikan varietas tanaman lokal melalui bank benihnya, dan mendistribusikannya melalui koperasi milik petani.
“Saat berupaya meningkatkan pertanian, kita harus menempatkan petani di garis depan dan pusat, khususnya pengetahuan tradisional mereka,” tutur Bishnu Bhusal dari LI-BIRD. “Membawa pengetahuan dari luar tidak akan berhasil di sini.”
Inisiatif Participatory Plant Breeding LI-BIRD mengumpulkan berbagai contoh benih tanaman lokal dari petani dan menanamnya secara berdampingan (gambar, sebelah kanan). Sampel-sampel yang dianggap paling sesuai oleh petani dalam hal hasil panen, ketahanan terhadap cuaca dan hama, setelah itu didistribusikan ke seluruh negeri oleh Community Seed Bank Association.
Bank benih lokal, koleksi benih khusus wilayah yang disediakan bagi petani, memungkinkan apa yang dikatakan Bhusal sebagai “konservasi melalui penggunaan”. Hal ini memastikan bahwa tanaman lokal memiliki peluang untuk berkembang, dan tidak menghadapi kepunahan akibat bencana alam atau perubahan iklim.
Meskipun varietas benih unggul impor sangat menggoda, benih tersebut juga memerlukan pupuk kimia mahal dan input pestisida, yang pada akhirnya merusak tanah. Benih asli jauh lebih tangguh dan dapat diandalkan.
“Bahkan dengan perawatan dan input yang sangat minim, varietas lokal tetap bertahan,” jelas Jenny Shrestha dari LI-BIRD. “Ini berarti, pupuk, pestisida, dan air yang dibutuhkan lebih sedikit.”
Ia menambahkan, benih asli secara alami beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat sehingga lebih tahan terhadap hama, kekeringan, dan bencana lainnya.
“Saat iklim berubah, penurunan hasil panen jauh lebih besar pada varietas benih impor dibandingkan varietas lokal asli,” tutur Shrestha, seraya menunjuk pada kinerja varietas gandum Setho Dabdi yang berasal dari Doti, di mana pada pengujian tahun 2022 memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan gandum impor meskipun terjadi kekeringan di musim dingin.
Meskipun ketergantungan pada hasil panen penting, pendapatan berkelanjutan juga penting. Pencitraan Lanskap, yang mana produk pertanian dipasarkan karena merupakan produk asli suatu daerah dan memiliki nilai pasar tinggi, telah menjadi insentif bagi para petani untuk kembali ke tanaman lokal asli.
Dua tanaman tersebut adalah Pokhareli Jethobudho, padi asli Pokhara yang disukai karena aromanya, dan Setho Kaguno, millet ekor rubah yang berasal dari ladang dekat Danau Begnas dan Rupa. Kedua produk tersebut diberi merek dan dipasarkan oleh perusahaan sosial Annapaat, yang menjamin petani memperoleh tarif minimum yang ditetapkan. Bekerja sama dengan pemerintah setempat, petani akan diberi ganti rugi jika mereka tidak dapat menjual produknya di harga yang sama atau lebih tinggi, di mana Setho Kaguno dihargai Rs120 per kg-nya.
Keberhasilan LI-BIRD dalam sektor benih kini ditingkatkan oleh pemerintah. Pusat Pengembangan Tanaman dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Agrikultur dari Kementerian Pertanian membantu petani di 30 distrik dengan uang untuk melestarikan tanaman lokal.
Subsidi pemerintah terhadap pestisida organik juga mendorong metode pertanian berkelanjutan, meskipun ada skeptisisme apakah pemerintah atau lembaga nirlaba yang mendorong inisiatif ini.
Tanaman komersial alternatif
Ketahanan terhadap dampak krisis iklim juga bisa berasal dari diversifikasi ke tanaman komersial yang meningkatkan pendapatan rumah tangga, sehingga memberi petani lebih banyak ruang untuk bernapas.
Surya Adhikari merupakan seorang pembiak tanaman terkenal di Begnas, dan mulai memperhatikan perubahan lingkungan yang meresahkan setelah lebih dari 40 tahun bekerja di bidang pertanian.
“Dalam lima tahun terakhir, cuaca menjadi sangat panas sehingga sulit untuk tetap tinggal di desa dan tanaman tidak tumbuh karena banyaknya serangga dan hama,” tuturnya.
Oleh karena itu, Adhikari mulai menanam kopi dan buah-buahan, yang terbukti lebih tahan terhadap tekanan panas dibandingkan tanaman tradisional seperti padi, yang biasa ia tanam. Kopi tidak memakan banyak ruang dan memperkaya kualitas tanah, sekaligus memungkinkan tanaman lain ditanam di antaranya.
Akan tetapi, dengan adanya hama dan curah hujan tak menentu yang menjadi ancaman yang lebih besar belakangan ini, Adhikari mendiversifikasi tanamannya lebih jauh ke daun kelor, yang dijuluki ‘Pohon Ajaib’ karena segudang manfaatnya sebagai obat.
Daun kelor digunakan dalam suplemen makanan, kaya akan vitamin, memiliki sifat antioksidan, serta memiliki harga yang tinggi di pasaran.
Daun kelor tumbuh cepat dan tahan kekeringan, dan Adhikari merupakan pelopor dalam memperkenalkan pohon ini ke Nepal, tetapi berharap pemerintah lebih proaktif dalam membantu memasarkan produk unik ini.
Adhikari menilai, ketidakpedulian pemerintah sudah menjadi hal lumrah, dan ini berarti petani seperti dirinya harus mencari cara inovatif untuk beradaptasi sendiri dengan krisis iklim.
Ia mengatakan, “Pemerintah membuat kebijakan tetapi sering kali tidak berwawasan luas, dan implementasi di lapangan tidak pernah benar-benar terjadi.”
Baik itu pelestarian benih maupun pendidikan tentang perubahan iklim, para petani pedesaan harus mengerjakannya sendiri. Ini berarti dampak iklim, ditambah dengan kurangnya lapangan pekerjaan dan kesempatan, mendorong peningkatan migrasi keluar.
“Pemerintah senang mengabaikan petani karena sudah cukup banyak uang yang berasal dari kiriman uang luar negeri,” tutur Adhikari, “Kita harus melakukan perubahan sendiri.”
Itulah sebabnya Adhikari mengorganisasikan petani sehingga ada kekuatan dalam jumlah, dan ide-ide adaptasi dapat dibagikan secara lebih luas. National Farmers Group Federation memainkan peran ini sebagai organisasi payung bagi organisasi advokasi di tingkat desa, distrik, dan pusat.
Millet yang Perkasa
Meskipun ia mungkin tidak memiliki gelar resmi, Ambika Bhandari merupakan seorang pemimpin di desanya. Lima tahun lalu, ia mulai menanam varietas millet lokal, Setho Kaguno, di ladangnya, setelah sebelumnya menanam jagung seperti kebanyakan penduduk setempat.
Melihat hasil panen Bhandari yang melimpah dan nilai pasar yang tinggi untuk millet-nya, para petani tetangga di desa Kafalghari di Kaski mengikuti jejaknya.
Perubahan pola cuaca dan tekanan panas meyakinkan para petani untuk beralih dari jagung ke millet. Lima tahun kemudian, Kafalghari saat ini menjadi desa penghasil Setho Kaguno terbesar di negara ini, dengan hasil panen lebih dari 2,56 ton tahun lalu.
Bhandari memperoleh benihnya dari bank benih LI-BIRD dan menjual hasil panennya ke lembaga nirlaba Merit Pokhara, yang dikelola oleh para pelajar yang juga terinspirasi oleh upaya LI-BIRD dalam pelestarian benih.
Merit memberikan petunjuk kepada para petani seperti Bhandari terkait penggunaan aplikasi ponsel untuk melacak pola hujan dan suhu sehingga dapat memastikan penanaman, panen, dan pengeringan dilakukan pada periode yang optimal.
Berdasarkan model Merit Pokhara, pemerintah setempat mengadopsi skema kompensasi untuk memastikan petani dibayar secara adil atas hasil panen mereka. Bhandari menuturkan: “Kerja sama publik-swasta ini sangat membantu. Hal itu juga membuktikan bahwa kami mengukir takdir kami sendiri bahkan tanpa bantuan dari luar.”
Artikel ini dipublikasikan oleh Nepali Times, bekerja sama dengan INPS Japan dan Soka Gakkai International, dalam status konsultatif dengan Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) PBB.