Mengapa Roberto Savio Percaya Kewargaan Global Lebih Penting dari Sebelumnya
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan INPS Japan, pendiri Inter Press Service (IPS), Roberto Savio, merefleksikan mengapa pemahaman terhadap dunia yang saling terhubung telah menjadi salah satu tanggung jawab utama kewargaan di abad ke-21. Dalam membahas bukunya yang baru, The Global Citizen Handbook, yang ditulis bersama pendidik Giuliano Rizzi, Savio berpendapat bahwa tantangan terbesar umat manusia bukan lagi kurangnya informasi, melainkan meningkatnya ketidakmampuan untuk memahami bagaimana krisis-krisis dunia saling berkaitan. Ia juga merefleksikan kemitraan yang berkelanjutan antara IPS, INPS Japan, dan Soka Gakkai International (SGI), yang ia gambarkan sebagai upaya bersama untuk membentuk warga global yang berkomitmen pada perdamaian, dialog, dan pada akhirnya, dunia tanpa senjata nuklir.
Oleh Katsuhiro Asagiri
ROMA (INPS Japan) — Ketika Roberto Savio mulai berbicara tentang The Global Citizen Handbook, ia tidak memulainya dengan buku itu sendiri.|ENGLISH|CHINESE|NORWEGIAN|JAPANESE|
Ia memulainya dengan generasi muda saat ini.

“Ketidakpastian yang dihadapi lulusan muda hari ini secara fundamental berbeda dari yang dialami orang tua mereka, apalagi kakek-nenek mereka,” kata Savio kepada INPS Japan dalam sebuah wawancara eksklusif di Roma.
Pengamatan itu menjadi titik awal sebuah buku yang lebih berbicara tentang kewargaan itu sendiri daripada globalisasi.
Ditulis bersama pendidik Giuliano Rizzi, The Global Citizen Handbook berpendapat bahwa tantangan terbesar umat manusia saat ini bukan hanya perubahan iklim, perang, ketimpangan, atau kecerdasan buatan. Melainkan meningkatnya ketidakmampuan kita untuk memahami bagaimana krisis-krisis tersebut saling berhubungan.
Bagi Savio, perbedaan antar generasi menggambarkan transformasi ini.
Mereka yang keluar dari kehancuran Perang Dunia Kedua mewarisi kota-kota yang hancur, tetapi juga keyakinan mendalam bahwa rekonstruksi akan menciptakan masa depan yang lebih baik. Pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi simbol optimisme.

Pada tahun 1990-an, generasi lain memasuki masa dewasa dengan harapan bahwa industrialisasi, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi akan menyediakan pekerjaan yang stabil, kepemilikan rumah, dan masa depan yang aman.
Generasi muda saat ini mewarisi sesuatu yang sangat berbeda.
Gangguan iklim, ketimpangan yang melebar, rivalitas geopolitik, ketidakstabilan finansial, penurunan demografis, konflik bersenjata, dan kecerdasan buatan berpadu menciptakan ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, menurut Savio, ketidakpastian objektif hanya menceritakan sebagian dari kisahnya.
Ada juga krisis pemahaman.
Setiap hari, orang-orang terpapar arus informasi tanpa henti tentang perubahan iklim, migrasi, demokrasi, keuangan, perang, dan kecerdasan buatan.
Tidak pernah sebelumnya manusia memiliki akses terhadap begitu banyak informasi.
Namun tidak pernah pula begitu sulit untuk memahami bagaimana informasi itu saling terkait.
“Warga biasa bukan ensiklopedia,” kata Savio.
Berita harian mendorong orang untuk melihat peristiwa secara terpisah, bukan sebagai proses yang saling terhubung.

Perubahan iklim tampak terpisah dari migrasi.
Migrasi tampak terpisah dari ketimpangan.
Kecerdasan buatan dibahas secara terpisah dari demokrasi.
Realitas menjadi terfragmentasi.
Ketika hubungan-hubungan ini hilang dari pemahaman publik, banyak orang mulai merasa bahwa dunia terlalu kompleks untuk dipahami—atau bahkan untuk dipengaruhi.
Bagi Savio, ini adalah salah satu tantangan demokrasi paling penting di era digital.
Warga tidak dapat berpartisipasi secara bermakna dalam kehidupan publik jika mereka tidak memahami kekuatan yang membentuknya.
Kesadaran inilah yang menjadi titik awal The Global Citizen Handbook.

Alih-alih membuat buku referensi lain yang penuh statistik dan analisis ahli, Savio dan Rizzi memilih pendekatan berbeda.
“Tujuan kami bukan hanya menjelaskan masalah global,” kata Savio.
“Kami ingin menciptakan sebuah buku panduan yang mendorong pembaca untuk berhenti sejenak, merenung, dan mengajukan pertanyaan kepada diri mereka sendiri.”
Setiap bab menggabungkan bukti terdokumentasi dengan contoh komunitas yang berhasil mengatasi tantangan serupa.
Alih-alih diakhiri dengan kesimpulan, setiap bab diakhiri dengan pertanyaan.
Fakta menjadi pemahaman.
Pemahaman menjadi penilaian.
Penilaian menjadi partisipasi.

Ini bukan sekadar buku tentang dunia.
Ini adalah panduan untuk menjadi warga yang sadar di dalamnya.
Bagi Savio, The Global Citizen Handbook bukanlah penyimpangan dari karya hidupnya.
Ini adalah kelanjutannya yang alami.

Ketika ia mendirikan Inter Press Service (IPS) di Roma pada tahun 1964, ambisinya jauh melampaui sekadar membangun kantor berita internasional lainnya.
Ia ingin memperluas jurnalisme internasional dengan membawa perhatian global pada suara dan pengalaman yang jarang muncul di berita dunia.
Filosofi ini dikenal sebagai “Memberi Suara kepada yang Tak Bersuara”.
Namun bagi Savio, jurnalisme harus lebih dari sekadar melaporkan peristiwa jauh.
Ia harus membantu orang memahami mengapa peristiwa itu penting bagi kehidupan mereka sendiri.
Selama percakapan kami, Savio merefleksikan bab lain dari perjalanan itu.
Pada tahun 2009, IPS dan Soka Gakkai International (SGI) meluncurkan kemitraan media internasional yang didedikasikan untuk membentuk warga global yang berkomitmen pada dunia tanpa senjata nuklir.


Sejak saat itu, INPS Japan berfungsi sebagai pusat Jepang dari kolaborasi tersebut, menerbitkan laporan multibahasa dan mengembangkan platform pengetahuan yang menghubungkan pelucutan senjata nuklir, pembangunan berkelanjutan, hak asasi manusia, perubahan iklim, dan tantangan global lainnya.
Mengingat kembali asal-usul kemitraan tersebut, Savio segera teringat pesan yang disampaikan oleh Dr. Daisaku Ikeda, presiden ketiga Soka Gakkai, dalam kompilasi tahunan pertama yang diterbitkan pada 2010.
“Itu tetap relevan hari ini seperti saat itu,” kata Savio.
Dalam pesannya, Dr. Ikeda menulis:
“Di sinilah pentingnya pendidikan, dalam arti seluas-luasnya. Ketika orang diberdayakan dengan pengetahuan yang akurat, mereka secara alami memahami tindakan apa yang perlu mereka ambil. Dengan bertukar pandangan dengan orang-orang di sekitar mereka, mereka dapat belajar bersama dan mencari bentuk tindakan terbaik dan paling efektif.”
Dr. Ikeda melanjutkan:
“Media memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendidikan ini. Dengan menyediakan informasi yang objektif secara luas dan menawarkan analisis dari berbagai sudut pandang, media dapat memperjelas sifat berbagai isu dan tindakan yang perlu diambil untuk menyelesaikannya.”
Mengenai kemitraan IPS–SGI, Dr. Ikeda menambahkan:
“IPS telah menjadikan misinya secara khusus untuk ‘memberi suara kepada yang tak bersuara’. Soka Gakkai International, dari perspektif masyarakat sipil, berdedikasi untuk membangun budaya damai. Merupakan kebahagiaan besar dapat bekerja sama dengan IPS dalam proyek ini untuk menyediakan forum dialog guna mengeksplorasi makna solusi atas isu paling kritis ini.”
Savio mengatakan ia tetap sangat terinspirasi bahwa visi yang disampaikan Dr. Ikeda lebih dari lima belas tahun lalu masih terus berkembang.
Ia juga mengingat pesan yang ia tulis sendiri untuk publikasi yang sama, yang menyatakan harapan bahwa platform media multibahasa INPS Japan–SGI akan menjadi “base camp” dalam pendakian menuju apa yang ia sebut sebagai “optimisme yang penuh harapan”.


Melihat kembali hari ini, Savio mengatakan ia senang melihat bahwa kerja sama antara IPS, INPS Japan, dan SGI terus berkembang.
Bagi dirinya, ini bukan sekadar kemitraan media yang sukses.
Ini menunjukkan bagaimana jurnalisme independen, pendidikan, dan dialog dapat bekerja bersama untuk membentuk warga global yang sadar dan bertanggung jawab.
Lebih dari lima belas tahun setelah pesan-pesan itu ditulis, The Global Citizen Handbook dapat dibaca sebagai kelanjutan dari percakapan yang sama—sebuah upaya untuk membentuk warga yang mampu memahami dunia yang semakin saling terhubung dan bertindak secara bertanggung jawab di dalamnya.
Kewargaan global, menurut Savio, bukan berarti meninggalkan negara atau budaya sendiri.
Melainkan mengakui bahwa tanggung jawab kita tidak lagi berhenti di batas negara.
Pilihan kita, konsumsi kita, politik kita, dan nilai-nilai kita semakin memengaruhi orang-orang yang mungkin tidak pernah kita temui.
Memahami hubungan-hubungan itu adalah tempat kewargaan dimulai.
Selama lebih dari enam puluh tahun, Roberto Savio berargumen bahwa jurnalisme harus lebih dari sekadar melaporkan peristiwa.

Ia harus membantu orang memahami kekuatan yang membentuk kehidupan mereka.
Melalui The Global Citizen Handbook, ia memperluas misi itu dari jurnalisme ke pendidikan.
Namun, pemahaman bukanlah tujuan akhir.
Itu adalah awal dari kewargaan.
Di dunia yang saling terhubung, masa depan tidak hanya bergantung pada pemerintahan yang lebih baik atau teknologi yang lebih baik, tetapi juga pada warga yang lebih terinformasi yang menyadari bahwa tanggung jawab tidak lagi berhenti di batas negara.
Itulah undangan yang disampaikan Roberto Savio melalui The Global Citizen Handbook.
Dan mungkin, di era fragmentasi dan ketidakpastian, itulah undangan yang paling dibutuhkan saat ini.

Roberto Savio – “kompas OtherNews” – adalah seorang jurnalis, pakar komunikasi, pengamat politik, aktivis keadilan sosial dan iklim, serta pendukung tata kelola global. Pada 1964, ia mendirikan Inter Press Service (IPS), yang ia pimpin sebagai Direktur Jenderal selama bertahun-tahun. Ia adalah Wakil Direktur Dewan Ilmiah New Policy Forum (sebelumnya World Policy Forum), yang didirikan oleh Mikhail Gorbachev, dan juga anggota Komite Internasional World Social Forum (WSF).
INPS Japan



